Setelah UAS, Aku Belajar Bertahan
Setelah aku mampu membantai UAS selama satu minggu penuh—dengan segala gebrakan, tekanan, dan lika-likunya akhirnya selesailah satu fase penderitaan sebagai mahasiswa baru di semester satu. Namun, di balik kata selesai, aku justru menyadari satu hal penting: ini bukanlah akhir, melainkan awalan. Awalan untuk beradaptasi dengan ritme baru, tantangan baru, dan gebrakan- gebrakan di semester selanjutnya.
Aku berharap, di semester berikutnya aku selalu diberikan kemudahan dalam menjalani setiap kegiatan yang akan datang, baik akademik maupun non-akademik.
Dalam mengerjakan UAS, aku benar-benar mengusahakan yang terbaik. Persiapanku tidak singkat—hampir dua minggu penuh aku gunakan untuk belajar, mengulang materi, dan memahami pola soal. Aku percaya, usaha yang sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. Keyakinan itu aku pegang kuat melalui satu kutipan yang terus terngiang di kepalaku:
Man Jadda wa Jadda | Barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka ia akan berhasil.
Ujian dimulai dari hari pertama, jam pertama, dengan mata kuliah Ekonomika Pengantar. Di mata kuliah ini, aku cukup yakin dengan kemampuanku. Dosen telah banyak memberikan latihan soal sehingga aku terbiasa menghadapi tipe-tipe pertanyaan yang muncul. Dan benar saja, ujian itu dapat aku lalui dengan baik. Rasa tenang dan puas menyertai langkah kakiku saat keluar dari ruangan.
Aku bersyukur jadwal pertama UAS adalah Ekonomika Pengantar. Pengalaman UTS kemarin masih membekas jelas di ingatanku, saat jadwal pertamanya justru Matematika Bisnis. Itu adalah ujian pertama dalam kehidupan perkuliahanku, dan langsung dihadapkan dengan mata kuliah yang menurutku cukup complicated. Bukan tidak bisa, hanya saja penuh perjuangan. Aku keluar ruangan dengan perasaan muram karena merasa belum mampu menjawab soal secara maksimal, ditambah lagi suasana ujian yang tegang dengan pengawas yang garang.
Saat itu, motivasiku sempat terguncang. Rasanya berat untuk melanjutkan ujian-ujian berikutnya. Namun aku sadar, ada orang tua yang harus diperjuangkan. Aku ingat bahwa kuliah di tempat ini bukanlah hal yang murah, dan kepercayaan mereka adalah amanah yang harus aku jaga. Dari pengalaman UTS itulah aku belajar: aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku ingin bangkit, memperbaiki diri, dan melakukan yang terbaik.
Satu per satu mata kuliah akhirnya berhasil aku lalui. Rangkaian UAS pun aku tutup dengan salah satu proyek pengganti UAS mata kuliah Bahasa Indonesia, yaitu proyek PKM di salah satu UMKM di sekitar daerah kampus. Proyek ini menjadi penutup yang bermakna, bukan hanya sebagai tugas akademik, tetapi juga sebagai pengalaman belajar langsung di lapangan.
![]() |
| Dokumentasi Lapangan |
Di akhir semuanya, yang tersisa hanyalah perasaan lega, bahagia, dan bangga pada diri sendiri. Aku berhasil melewati fase ini. Bukan karena aku sempurna, tetapi karena aku mau berusaha, belajar dari kesalahan, dan terus melangkah meski sempat ragu.
Semester satu telah usai. Perjalananku sebagai mahasiswa baru memang penuh liku, tetapi justru di sanalah aku belajar arti ketangguhan, tanggung jawab, dan kesungguhan. Dan aku siap menyambut semester berikutnya dengan versi diriku yang lebih kuat dari sebelumnya.
Sejarah tidak dimulai dari masa lalu, tapi dari keberanian mencatat hari ini.


0 Komentar